Senin, 23 Mei 2016

TEREGEDI KELAM di AWAL BULAN MEI


 
P
ada 2 Mei silam tepatnya pada hari peringatan Pendidikan Nasional terjadi peristiwa mengcengangkan yaitu pembunuhan dosen oleh mahasiswanya sendiri. Miris memang pelaku dan si korbannya adalah orang-orang yang terdidik dan terpelajar. Kejadian ini sangat mencoreng  hari peringatan pendidikan, yang seharusnya di hari peringatan pendidikan Nasional seorang mahasiswa dan dosen sebagai orang-orang yang terhimpun dalam lembaga pendidikan menunjukan sikap yang baik atau prestasi membanggakan sebagai orang-orang yang terdidik dan terpelajar.
Namun berbeda dengan peringatan hari pendidikan Nasional tahun ini. Hari yang seharusnya di iyasi dengan perasaan bangga dan  semangat baru untuk mengujutkan pendidikan yang baik kedepannya bagi indonesia. Malah di warnai dengan aksi kriminal oleh mahsiswa UMSU Fakultas keguruan Jurusan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan. Yang seharusnya menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kini menjadi pembicaraan yang tidak baik di dunia publik.
Yang sangat mengherankan. Si  pelaku pembunuhan  ini, melakukan tindakannya dengan keadaan sadar tampa ada paksaan dari pihak manapun dan sebelumnya memang telah di rencanakannya. Padalah penyebab si pelaku terdorong untuk membunuh dosennya ini tidak lain hanya karena peneguran yang berulang-ulang yang di lakukan oleh sang dosen dan nilai yang di beri dosennya selalu jelek (keterangan pelaku saat penyidikan polisi). Sikap berlebihan dosen inilah yang akhirnya membuat pelaku terdoronh untuk melakukan aksi nekatnya ini.
Sepele memang penyebabnya, namun begitu patal akibatnya. Mungkin ini bisa jadi tamparan  bagi kita bersama baik dosen maupun mahasiswa sendiri. Dosen sebagai pengajar harus menimbang-nimbang sikap atau tindakannya kepada mahasiswa. Jagan sampai membuat mahasiswanya merasa tertekan dan menjadi kesal yang akhirnya menimbulkan sipat dendam terhadap dosennya. Karena kita kan tidak ingin kejadi seperti ini terjadi untuk  kedua kalinya di dunia pendidikan kita.
Bukan berarti jika ada seorang dosen yang terkadang suka mempelakukan mahasiswanya dengan semena-mena atau sesuka hatinya. Jadi mahasiswanya di halalkan untuk melakukan tindakan kriminal  terhadap dosenya, apalagi sampai menghilangkan nyawanya. Tidakan seperti ini sangatlah tercela, siapa pun kita, apa pun posisi kita, bagaimana pun keadaan kita, baik dosen atau  mahasiswa mau siapa pun itu. Perilaku membunuh tidak lah di benarkan baik secara hukum atau pun agama.
Cukuplah tanggal 2 mei ini menjadi catatan buram di dunia pendidikan kita. Harapan kita bersama, semoga ini menjadi peristiwa terakhir kalinya terjadi di dunia pendidikan kita. Biarlah ini menjadi sejarah kelam di dunia pendidikan. Agar menjadi perenungan bagi kita untuk tidak melakukan hal yang serupa.

PENTINGNYA PERAN MASYARAKAT dalam PEMERINTAHA

D
ewasa ini masyarakat kita kurang atau tidak peduli memperhatikan bagaimana jalannya sebuah pemerintahan yang sedang berjalan. Seharusnya masyarakat lebih peka dalam mengawasi jalannya pemerintahan, agar tidak ada lagi terjadi pelanggaran-pelanggaran atau penyelewengan di dalam pemerintahan kita ini.
            Seringnya terjadi pelanggaran di dunia pemerintahan kita, di karenakan masyarakat kita yang telah terbiasa mennganggap bahwa itu bukan lah sebuah pelanggaran, padahal sebuah kejahatan itu berasal dari institusi yang terkecil hingga institusi yang besar. Masyarakat kita merasa bahwa pelanggaran sebuah institusi di dalam pemerintahan itu bukanlah urusannya, di karenakan ketidak pedulian terhadap pemerintahan.
            Seharusnya kapan pun dan di mana pun masyarakat itu adalah bagian dari sebuah pemerintahan, bukan di saat pemilu saja masyarat di butuhkan dalam pemeritahan ini. Kesalah itulah yang selalu menjadi alasan masyarat awam. Pemerintah yang membuat masyarat berfatwa seperti itu, tampak di setiap jelang masa pemilu pada saat kampaye, elemen-elemen pemerintahan pun serasa sangat bersahabat kepada masyarakat.
            Wajar pada saat terjadi masalah-masalah kecil seperti, korupsi di tingkat dini. Contohnya banyak di mana-mana masyarak ingin mengurus-mengurus surat-surat di kelurahan dan di kecamatan, sering di persulit dengan hal ini dan itu. Agar urusanya mudah dan cepat masyarakat harus mengeluarkan pundi-pundi uang. Hal ini yang menyulitkan masyarat, namun masyarat hanya  diam dan tak peduli akan tindakan institusi terkecil di pemerintahan itu. Bagi masyarakat asal urusannya selesai lebih cepat itu lebih utama mereka.
            Masyarat  tidak sadar akan tidak korupsi sang pemimpin, entah karna takut atau  karena tidak mau ambil pusing akan tindakan pemerintahan kini. Padahal ini adalah tindakan penyelewengan, yang  jika terus-menerus di biarkan maka akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan terus berakar sampai institusi yang lebih besar. Namun karena minimnya pengetahuan masyarakat kita sehingga hal ini hanya di anggap biasa dan tidak perlu di permasalahkan. Sebenarnya ini lah cikal-bakal yang membuat negeri ini terancam kerisis kepemimpinan di mana peminpin negeri ini pun sudah tidak peduli lagi dengan cita-cita kemerdekaan.